ANTARA BERBAHASA DAN BERBUDAYA
A. Pendahuluan
Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda , tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Hal ini berarti, apakah bahasa dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya?, sehingga bahasa dapat menentukan kemajuan dan kematian budaya suatu masyarakat.
Bahasa digunakan manusia untuk alat komunikasi dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya, dia tidak bebas sama sekali. Ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggota-anggota lain sesuai dengan tata-nilai yang menjadi pedoman mereka dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya, dia tidak bebas sama sekali. Ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggota-anggota lain sesuai dengan tata-nilai yang menjadi pedoman mereka.
Seandainya benar bangsa Eropa pada masa pencerahan (aufklaerung) telah melakukan “penterjemahan” besar-besaran atas karya agung orang-orang Islam di dunia Timur, Jepang mungkin negara pertama di dunia yang mampu menterjemahkan kembali bahasa Barat tanpa meninggalkan budaya dan bahasanya, sehingga dapat sejajar dengan negara-negara Barat.
Secara tidak disadari pengekangan bahasa sudah semakin kuat, termasuk bias agama. Pemakaian kata “puasa” dianggap masalah, karena itu dipakai kata “shaum rhamadan” dan membenci pemakaian kata “puasa”, “anda” dengan “antum”, “saya” dengan “ana”, “saudara-saudari” dengan “ikhwan-akhwat”, “siswa” dengan “murid” dan lain-lain.
Di negara-negara Barat (baca: Amerika dan Eropa) pengekangan terhadap bahasa malah dicampuri ideologi dan agama. Nama-nama orang Muslim banyak dicurigai memiliki keterkaitan dengan klaim teroris, sehingga terjadi tindakan sweeping dan diskriminasi terhadap pendatang Muslim. Bahkan, di negara mayoritas Muslim sekalipun isu ideologi dan agama sering dikaitkan dengan bahasa. Di negara Turki, kata-kata “bernuansa” Islam seperti “khilafah” atau bahasa-bahasa agama yang dijadikan simbol seperti pelarangan memakai jilbab di parlemen dilarang keras oleh negara.
Berbahasa merupakan kegiatan manusia setiap saat dalam berhubungan dengan orang lain. Dilihat dari fungsinya , bahasa merupakan alat mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan gagasan kepada orang lain. Sehingga kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia ketika berhubungan dengan orang lain adalah berbahasa, atau dalam bahasa masyarakat awam adalah bertutur kata. Ini diwujudkan dalam bentuk berbahasa secara formal maupun non formal. Dalam tataran formal misalnya bahasa dalam berpidato, presentasi produk, presentasi ilmiah dan lain-lain.
Bahasa pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial, bahasa juga merupakan fenomena budaya. Kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar itu mewajibkan adanya penguasaan terhadap aspek-aspek kebahasaan dan juga pengetahuan terhadap aspek-aspek sosial budaya yang menjadi konteks penggunaan bahasa.
Yang kemudian dalam perkembangannya bahasa menjadi ciri dari sebuah kebudayaan. Minimal menjadi pembeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dari sisi penggunaan bahasanya. Bagaimana kita membedakan bahasa Jawa Solo dengan bahasa Jawa Banyumasan. Begitu pula dalam semua bahasa, dan termasuk dalam bahasa Arab. Bagaimana kita membedakan suku-suku di jazirah Arab, salah satunya adalah dengan mengamati bahasa yang digunakan. Namun dari sisi ilmiah, tentu hal ini harus di kaji lebih dalam lagi. terlebih kalau kajian ini menyangkut ilmu sosiolinguistik.
Tampak ada proses kreatif antara berbahasa dan berbudaya untuk mengimplementasikan bagaimana kita berbahasa dan berbudaya. Lantas sejauh mana bahasa dan budaya saling mempengaruhi? Bagaiamana konteks bahasa dalam kebudayaan?, Apakah bahasa dipengaruhi oleh budaya atau sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan penulis coba untuk menganalisis jawabannya dalam makalah ini, dengan pendekatan sosiolinguistik, dan konteksnya dengan Bahasa Arab.
B. Hubungan bahasa dan budaya
Untuk mempertegas korelasi antara bahasa dan budaya, sebaiknya kita lihat batasan-batasan yang jelas tentang apakah bahasa dan apakah budaya,
1) Bahasa
Bahasa dapat di kaji dari dua aspek, yaitu aspek hakekat dan aspek fungsi , Secara etimologis, kata bahasa dalam bahasa Indonesia melebihi dari satu makna, untuk lebih jelas mari kita perhatikan pemakaian kata bahasa dalam kalimat-kalimat di bawah ini :
1. Manusia mempunyai bahasa, sedang binatang tidak.
2. Hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa itu.
3. Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer.
Kata bahasa pada kalimat (1) adalah sebuah language. Sedang pada kalimat (2) kata bahasa berarti sopan santun. Pada kalimat (3) kata bahasa berarti dengan cara.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hanya pada kalimat (1) saja kata bahasa digunakan secara harfiah, sedang pada kalimat yang lain digunakan secara kias. Bahasa sebagai objek linguistik adalah seperti yang digunakan pada kalimat (1), pada kalimat bahasa sebagai language
Adapun bahasa secara terminologi adalah suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer (sewenang-wenang) yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Dengan definisi ini dapat dijelaskan bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang menghubungkan antara simbol dengan makna yang dikandungnya. Sedangkan makna itu sendiri dihubungkan dengan objek-objek atau kejadian-kejadian dalam dunia praktis. Tentu saja simbol-simbol itu memperoleh makna khususnya dari konsensus atau konvensi sosial tempat digunakan bahasa itu.
Ada beberapa definisi bahasa yang dikemukakan oleh para tokoh : pertama,Ibnu Jinni (392 H), seorang ahli bahasa Arab klasik membatasi bahasa dengan “bunyi ujaran yang diucapkan manusia untuk mengungkapkan maksud hatinya”; Kedua, E.Sapir, seorang ahli bahasa Barat modern, memandang bahasa sebagai “sarana yang digunakan oleh manusia untuk mengungkapkan fikiran, ide-ide dan perasaannya dengan cara menyusun lambang-lambang yang muncul dengan keinginan sendiri”; ketiga, Vendyes, menyatakan bahasa adalah “gambaran ideal yang diujarkan dengan sendirinya antara anggota masyarakat dalam suatu kelompok besar”. Karena itu menurutnya bahasa merupakan produktifitas alami manusia untuk menggambarkan kegiatannya sebagai penyesuaian terhadap kemampuan manusia untuk dapat dikomunikasikan dalam masyarakat; keempat, Ullaman menyebutkan bahwa bahasa adalah “susunan lambang bunyi yang tersusun dalam fikiran orang sebagai bagian dari masyarakat bahasa “; kelima, E.Sturtevant, bahasa menurutnya adalah “susunan lambang bunyi yang diujarkan dengan sendirinya, yang dengan bahasa itu manusia sebagai anggota masyarakat tertentu dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi.
Dari paparan di atas, kita dapat mengambil gambaran yang jelas tentang bahasa, sehingga dapatlah kita katakan bahasa sebagai sarana manusia untuk mengembangkan potensi kemanusiaan dan kemasyarakatannya, baik itu yang tercermin dalam kebudayaan, pengetahuan, tradisi maupun falsafah hidupnya.
Berdasarkan pengertian para tokoh tersebut, dapatlah di simpulkan bahwa ciri atau sifat hakiki bahasa adalah : Bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Maka pengertian-pengertian ini tidak bisa dilepaskan dari unsur-unsur yang lainnya jika ingin memehami bahasa secara utuh. Tetapi untuk memahami pengertian-pengertian itu perlu diuraikan satu persatu.
Bahasa sebagai sebuah sistem artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen secara tetap dan dapat dikaidahkan. Misalkan dalam kalimat bahasa Arab :
كتب الطالب الدرس
kalimat tersebut dapat dikatakan benar, karena telah mengikuti aturan ataupun kaidah yang ada dalam bahasa Arab. Tapi jika kalimat itu seperti ini :
كتب الطالبة الدرس
maka kalimat tersebut tidak dapat dibenarkan, karena tidak tersusun menurut aturan atau kaidah bahasa Arab. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis.
Dengan sistem maksudnya, bahasa tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah sub sistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan sub sistem leksikan. Dan setiap bahasa memiliki sistem yang berbeda dari bahasa lainnya.
Bahasa itu berwujud lambang. Lambang-lambang bahasa dalam bentuk bunyi, artinya lambang-lambang itu berwujud bunyi yang bisa didengar, yang lazim disebut bunyi ujar, atau bunyi bahasa. Setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Umpamanya lambang bahasa yang berbunyi kuda melambangkan konsep atau makna sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai. Dan bunyi kata spidol yang melambangkan konsep atau makna sejenis alat tulis tertentu. Karena setiap lambang bunyi itu menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap satuan ujaran bahasa memiliki makna. Jika ada lambang bunyi yang tidak bermakna atau tidak menyatakan suatu konsep, maka lambang tersebut tidak termasuk sistem suatu bahasa.
Bahasa itu bersifat arbitrer, karena hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya tidak bersifat wajib, bisa berubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengkonsepsi makna tertentu. Secara kongkrit, mengapa lambang bunyi ” kuda ” digunakan untuk menyatakan sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai adalah tidak dapat dijelaskan.
Meskipun bersifat arbitrer, bahasa juga bersifat konvensional, artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi atau sepakat menyatakan lambang ” kuda ” hanya digunakan untuk sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
Bahasa itu bersifat produktif, artinya dengan sejumlah unsur yang terbatas namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Artinya kosa kota yang ada pada bahasa tertentu bisa terus dikembangkan.
Bahasa itu bersifat dinamis, maksudnya bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktudp terjadi. Contohnya yang tampak jelas biasanya adalah pada tataran leksikan. Dimana setiap waktu mungkin saja ada kosa kata baru yang muncul, tetapi ada juga yang tenggelam, tidak digunakan lagi. Seperti kata riset,dan ulang-alik.
Bahasa itu bersifat unik dan beragam, artinya memiliki ciri atau sifat khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Seperti adanya kata sapaan ” mampir ” dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa lain ujaran seperti ini tidak ditemukan, dalam bahasa Arab misalnya. Hal ini disebabkan faktor latar belakang budaya yang berbeda. Di sisi lain bahasa juga bersifat universal, karena memiliki ciri yang sama yang ada pada semua bahasa. Misalnya ujaran kata ” selamat ” dapat dipastikan ujaran kata seperti ini ada pada setiap bahasa manapun.
Bahasa itu beragam, artinya meskipun sebuah kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis, maupun pada tataran leksikan. Bahasa Arab yang digunakan di Saudi tidak persis sama dengan yang digunakan di Mesir dan lain-lain.
Aspek kedua dari pengkajian bahasa adalah fungsinya, komunikasi merupakan fungsi bahasa yang paling mendasar, Bahasa selain sebagai alat berinteraksi juga menjadi identitas bagi penuturnya, karena sebagai alat komunikasi verbal, bahasa yang menjadi identitas bagi penuturnya, tercermin sifat manusiawi yang memang hanya dimiliki oleh manusia. Karena manusia menguasai bahasa bukanlah secara naluriah melainkan dengan cara belajar.
Sebagai sebuah kajian, bahasa memiliki banyak bidang yang bisa dikaji dan masing-masing mempunyai cabang-cabang yang kompleks yang saling berkaitan. Secara umum kajian bahasa bisa dikaji secara internal dan eksternal. Kajian secara internal hanya dilakukan terhadap struktur intern bahasa seperti struktur fonologis, struktur morfologis dan struktur sintaksisnya, maka kajian ini akan menghasilkan perian-perian bahasa itu saja tanpa ada keterkaitan dengan masalah lain di luar bahasa. Kajian internal dilakukan dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur yang ada dalam disiplin linguistik saja.
Adapun kajian secara eksternal berarti kajian yang dilakukan tidak hanya menggunakan teori-teori atau prosedur-prosedur linguistik saja akan tetapi berkaitan dengan masalah lain di luar bahasa yaitu berkenaan dengan pemakai bahasa itu oleh para penuturnya di dalam kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan. Misalnya berkaitan dengan disipilin sosiologi, psikologi dan antropologi, sehingga wujudnya menjadi ilmu interdisiplin yang melibatkan dua disiplin ilmu atau lebih dan namanya merupakan gabungan dari disiplin-disiplin ilmu tersebut seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, dan antropolinguistik. Dalam linguistik umum kajian secara internal lazim disebut kajian bidang mikrolinguistik dan kajian secara eksternal lazim disebut kajian bidang makrolinguistik.
De Sausurre (1916) pada abad ke-20 telah menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan dan sebagainya. Kemudian para pakar bahasa abad sekarang merasa perlu untuk memberi perhatian lebih terhadap dimensi kemasyarakatan bahasa karena ternyata dimensi kemasyarakatan bukan hanya memberi “makna” kepada bahasa akan tetapi pula menyebabkan terjadinya ragam-ragam bahasa. Dilihat dari sudut lain ragam-ragam bahasa ini bukan hanya menunjukkan adanya perbedaan sosial akan tetapi memberi indikasi mengenai situasi berbahasa, mencerminkan tujuan, fungsi, topik, kaidah dan modus-modus penggunaan bahasa.
Pakar lain Charles Morris (1946) yang membicarakan bahasa sebagai sistem lambang, membedakan adanya tiga macam kajian bahasa yang berkenaan dengan fokus perhatian yang diberikan. Jika fokus perhatian di arahkan kepada hubungan antara lambang dan makna disebut semantik, jika perhatian difokuskan kepada hubungan antar lambang maka disebut sintaktik, dan jika fokus perhatian diarahkan kepada hubungan lambang dengan para penuturnya disebut pragmatik. Kajian yang ketiga ini yakni kajian hubungan antar lambang dengan penuturnya tidak lain adalah sosiolinguistik.
Bahasa menunjukkan budaya. Begitu tesis yang disampaikan oleh Whorf-Sapir. Tesis itu sebetulnya adalah ungkapan Edward Sapir dalam bukunya Language yang terbit tahun 1921 . dia menyatakan bahwa sejarah antara bahasa dan budaya memiliki garis yang parallel. Lebih jauh dikatakan bahwa bahasa menentukan pola pikir seseorang .
Dalam kehidupan sehari-hari, antara orang yang terbisaa berbahasa santun, maka orang akan langsung menilai bahwa orang itu berbudi baik. Orang yang berbahasa secara intelek dan teratur, maka orang itu dinilai sebagai orang yang berpendidikan, terpelajar dan berilmu. Begitulah orang menilai orang lain dari cara dia berbahasa.
Mustapha Abdallah Bouchouk bahkan mengemukakan bahwa budaya adalah bahasa itu sendiri. Ini berangkat dari asumsi bahwa mempelajari bahasa dengan sendirinya adalah mempelajari budaya di mana bahasa itu digunakan. Mempelajari bahasa Arab misalnga, maka ia akan mempelajari bagaimana norma dan nilai budaya yang dianut oleh orang Arab yang berbeda dengan orang Indonesia; keterbukaan, keterusterangan, lugas tanpa basa-basi.
Sementara banyak pakar mengemukakan bahwa bahasa merupakan subordinat dari budaya, di mana bahasa berada di bawah kebudayaan . Dari pendapat ini nampak bahwa bahasa merupakan produk dari kebudayaan. Ini juga akan menimbulkan perdebatan panjang, karena seakan-akan bahasa dipengaruhi oleh budaya yang berkembang. Karena di lain pihak, ada pendapat bahwa antara bahasa dan budaya bersifat koordinatif seperti dikemukakan oleh Sapir dan Worf di atas. Bahasa merupakan produk yang satu paket, di mana adanya manusia sudah satu paket dengan adanya bahasa yang digunakan. Jadi bahasa merupakan perangkat lunak yang menjadi satu dengan diciptakannya manusia. Sementara banyak ahli ortodoks yang menganggap bahasa hanya salah satu penyangga budaya yang tidak penting.
Namun tak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia makin maju sampai sekarang juga tak lepas dari bahasa sebagai alat komunikasi . Komunikasi ini akan mentransformasikan ide, gagasan, dan imajinasi serta refleksi manusia menjadi sesuatu yang berkembang dari masa ke masa menuju arah kesempurnaan. Ini ditandai dengan arah pengembangan teknologi sebagai sarana pembangunan dengan berbasis komunikasi. Komunikasi menjadi symbol kemajuan peradaban saat ini dengan berbagai capaian teknologinya. Ini merambah ke segala lini kehidupan. Bahkan bisnis raksasa menyandarkan kelangsungan usahanya dengan bahasa-bahasa yang harus dikenal oleh korporat untuk, misalnya, promosi dan penguatan basis konsumen. Ini sekaligus menandai bagaimana peran bahasa dalam wilayah ekonomi.
Apapun perdebatan yang terjadi menyangkut posisi masing-masing ( bahasa dan budaya ) namun tesis bahwa ada pengaruh yang erat antar berbahasa dan berbudaya sangat relevan untuk dibahas. Zaki Hassamudin menegaskan bahwa untuk melihat gejala-gejala budaya maka bisa dilihat dari beberapa unsure yang membentuk system budaya tersebut, diantaranya adalah bahasa ini . Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bagaimana orang intelek berbahasa bisa di bandingkan dengan preman jalanan dalam berbahasa. Begitu pula bagaimana cara seorang politisi dan da’i berbahasa, ini sudah menunjukkan adanya kaitan antara bahasa dan budaya.
Ada beberapa teori yang menyatakan tentang keterkaitan bahasa dan budaya, antara lain:(1) bahwa pertumbuhan sebuah budaya tidak akan sempurna tanpa bahasa sebagai perangkat komunikasi utama dan penjaga budaya itu sendiri; (2) bahwa bahasa merupakan wujud dari kebudayaan itu sendiri; (3) dengan demikian, bahasa memainkan peran yang penting dalam pembentukan masyarakat.
Bahasa sebagai alat kebudayaan juga banyak dibahas, misalnya oleh Samsuri, guru besar IKIP Malang, yang memetakan penggunaan bahasa sebagai instrument budaya dalam empat bidang yaitu bahasa dan sastra, bahasa dan politik, bahasa dan ilmu pengetahuan, bahasa dan pembangunan.
Sementara Levi Strauss, sebagaimana dikutip oleh Darsita, menjelaskan bahwa bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan dan membedakan kebudayaan dalam tiga hal, pertama bahasa yang digunakan oleh masyarakat dianggap sebagai refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; kedua bahasa adalah bagian dari kebudayaan, atau salah satu unsure dari kebudayaan; ketiga bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan.

2) Budaya ( الثقافة / culture )
Kata budaya (الثقافة) sering diungkapkan sebagai kalimat yang samar bagi sebagian orang, karena kalimat tersebut sering disinonimkan dengan peradaban. Orang yang terpelajar (الفرد المتعلم) diartikan orang berbudaya (الفرد المثقف) atau orang beradab (الفرد المتحضر). Maka dalam pengertian ini budaya (الثقافة) dengan adab atau peradaban (الحضارة) tak berbeda. Walaupun dalam bahasa Indonesia, secara etimologi, kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu berasal dari kata budhi yang berarti akal dan daya yang berarti kekuatan, usaha. Secara terminologi, budaya atau (الثقافة) seperti yang diajukan para pakar sosiologi, antropologi dan pendidikan berarti segala sesuatu yang dihasilkan pemikiran manusia yang mencakup bahasa, agama, kebiasaan, pakaian, bentuk bangunan, alat transfortasi dan sebagainya. Jadi kebudayaan mengindikasikan segala hasil pikiran dan usaha manusia untuk kehidupannya.
Perubahan sosial kebudayaan yang terjadi di wilayah tertentu akan mempengaruhi karakteristik bahasa yang digunakan. Di bagian awal telah dikupas bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya, maka dalam pendekatan sosiolinguistik, perubahan budaya ini secara langsung akan mempengaruhi penggunaan bahasa, dan di sisi lain perubahan yang terjadi pada bahasa merupakan respon bagi perubahan sosial budaya itu. Setelah revolusi Mesir 1952 dan secara umum setelah masa kemerdekaan bangsa-bangsa arab dari kolonialsme. Bahasa arab mengalami perubahan yang diakibatkan perubahan sosial tersebut. Misalnya kata النسافة (tropedo), المفوضية (kelautan) المكوس الجمركية (bea cukai) mulai menghilang dari penggunaan penutur Mesir dan tergantikan oleh المدمرة, السفارة dan الرسوم الجمركية. Perubahan kebudayaan yang disebabkan tekhnologi pun mempengaruhi kosakata bahasa Arab, contoh االتلفاز atau التلفزيون, الكمبيوتار dan sebagainya yang berkaitan dengan perkembangan tekhnologi. Kosakata-kosakata ini sebelumnya tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, akan tetapi keberadaanya kini dibutuhkan karena untuk merespon penemuan tersebut, boleh jadi dengan penciptaan kosa kata baru atau dengan peminjaman dari kosakata bahsa lain yang diadaptasi.
budaya banyak diartikan sebagai sesuatu yang kompleks yang melingkupi kehidupan manusia sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia . Soerjono Sukanto, dengan mengutip E.B. Taylor, mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah “ Kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, adapt-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dalam kaitan ini budaya sering berkaitan dengan pencapaian dan penciptaan terhadap sebuah karya, baik berupa adat, kebisaaan, sains, teknologi, seni, agama dan lain sebagainya yang tersimbolkan dalam banyak bentuk. Secara sistematik, unsur-unsur kebudayaan dirumuskan menjadi; system religi dan keagamaan, system organisasi kemasyarakatan, system pengatahuan, bahasa, kesenian, system mata pencaharian, dan system teknologi dan peralatan. Namun secara keseluruhan, budaya adalah produk masyarakat.
Bahasa adalah unsur budaya dari tujuh unsur yang dalam sosiologi disebut sebagai universal culture. Apakah bahasa termasuk dalam salah satu hasil karya manusia, di sinilah signifikansi pengkajian kita kali ini. Dalam kajian mengenai bahasa dan budaya ini, perdebatannya sangat panjang bagi para ahlinya, sehingga tampak bahwa antara berbahasa dan berbudaya, jika dilihat posisi mana yang mendominsai, maka akan tampak seperti perdebatan antara ayam dan telur.
C. BAHASA DAN WACANA KEBUDAYAAN
Wacana kebudayaan (Cultural scripts) dalam tulisan ini diartikan sebagai wacana yang dapat berwujud teks media, pepatah, dan peribahasa, cerita rakyat, dan lain-lainnya yang merupakan produk penggunaan bahasa yang mencerminkan bahasa sebagai sumber daya yang memiliki bentuk, fungsi dan makna tersendiri. Sama halnya dengan penampilan fisik seseorang antara yang satu dengan yang lain berbeda, begitu pula kebudayaan. Dalam tradisi-tradisi yang hidup dalam masyarakat mengandung wacana kebudayaan, seperti ungkapan yang memiliki bentuk/struktur, fungsi, dan makna seperti bentuk hormat, jenis nasehat, perilaku, balas budi, cara bertutur, penjaga perasaan orang lain semuanya merupakan produk pendayagunaan dan pemberdayaan bahasa sebagai bagian dari kebudayaan. Sehingga dengan memperhatikan penggunaan bahasa oleh individu maupun kelompok sedikit banyak dapat diketahui budaya pemakainya.
Dalam masyarakat dan komunitas yang berbeda orang bertutur secara berbeda orang bertutur secara berbeda. Cara komunikasi (communication style) yang berbeda dapat dijelaskan dan difahami melalui konteks nilai-nilai dan prioritas budaya yang berbeda. Lebih lanjut wacana kebudayaan (cultural script model) adalah sebuah alternatif. Model ini dimungkinkan kita dapat mempelajari perbedaan dalam cara berkomunikasi maupun perbedaan yang melandasi cara berfikir. Di dalam masyarakat terdapat banyak variasi dalam bertutur, namun di dalamnya juga terdapat tingkat kesamaan intra komunitas. Setiap masyarakat memiliki serangkaian norma budaya yang sama, yang kelihatan amat spesifik dan dapat dinyatakan dalam bentuk wacana kebudayaan secara eksplisit.
Wacana kebudayaan digunakan dalam aktifitas sehari-hari seperti boleh tidak diucapkan orang (bahasa jawa pamali). Wacana kebudayaan membentuk suatu kaidah budaya (cultural grammar) yang jarang diucapkan (secara produktif) sebagai pepatah, ajaran-ajaran moral. Rutinitas sosialisasi yang umum, kegiatan religius (adat istiadat), namun dapat diucapkan pula seperti humor, ajaran populer, dan sebagainya. Karena wacana tersebut dapat diformulasikan dalam leksikon universal maka wacana tersebut dengan mudah bisa dibandingkan secara lintas bahasa. Bahasa dalam wacana kebudayaan dapat dianalisis dari berbagai arah yang berbeda serta menggunakan berbagai metode .
Pendekatan etnografi komunikasi dapat menjelaskan fenomena bahasa dalam wacana budaya. Hal ini yang telah dirintis oleh Hymes (1962) pada saat teori linguistik didominasi oleh aspek struktural bahasa yang bersifat perspektif dibandingkan dengan penggunaan bahasa. Lebih lanjut hymes yang terkenal dengan teori Speaking (setting, participants, ends, acts, keys, instrumentalities, norma, dan genres) menyatakan bahwa penelitian harus berfokus pada aktifitas tutur (speech event). Pendekatan ini dapat diawal dari kajian sosiolinguistik yang selanjutnya mencari makna budaya dibaliknya.
Wierzbicka (1994) pengembang pendekatan NSM (natural semantic metalanguage) menjelaskan bahwa metabahasa dari leksikal universal dapat dipakai untuk analisis semantik dan juga untuk memformulasikan kaidah budaya untuk bertutur yang disebut Cultural scripts. Wacana ini mencakup sikap/perilaku, asumsi, norma khas budaya dengan tepat. NSM merupakan suatu teori yang berpegang pada makna yang kompleks yang terkandung dalam suatu bentuk (kata, frasa, atau klausa) baik dalam suatu bahasa maupun lintas bahasa yang diuraikan dengan sejumlah makna asli (semantic prime) yang bersifat universal. Keberadaan makna asli didasari oleh asumsi bahwa konsep dasar yang dimiliki manusia diwarisi sejak lahir serta merupakan warisan genetis sehingga dapat ditemukan pada setiap bahasa manusia.
Selain itu dapat mempergunakan pendekatan semiotik yaitu segala sesuatu dalam kebudayaan dapat dilihat sebagai bentuk komunikasi dengan bahasa verbal, dan dapat dimengerti serangkaian kaidah atau prinsip dasar yang umum. Semiotik (sosial) menyangkut makna sosial yang dibangun melalui teks dan praktek semiotik dalam masyarakat. Pendekatan pragmatik juga dapat dipakai untuk menganalisis bahasa dalam wacana kebudayaan. (teori pragmatik tidak diuraikan di sini).
Bahasa merupakan kondisi kebudayaan dalam arti yang diakronis, di mana bahasa mendahului kebudayaan. Karena melalui bahasalah manusia menjadi makhluk sosial yang berkebudayaan dan berperadaban. Bahasa juga merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya adalah material yang sama untuk membangun kebudayaan, dalam arti bahwa bahasa merupakan fondasi bagi terbentuknya berbagai macam struktur yang kompleks yang sejajar dengan unsur budaya yang lain.
Jelaslah bahwa berbahasa memang menunjukkan bagaimana sebuah komunitas atau bangsa berbudaya. Antara berbahasa dan berbudaya menunjukkan hubungan timbal balik. Untuk mempertahankan budaya maka berbahasa menjadi sebuah kelaziman. Demikian juga untuk mempertahankan bahasa, keberlangsungan budaya sangat penting walaupun budaya adalah naluri dari kehidupan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.
Dapat ditilik dari sejarah, pada masa daulah bani Abasiyah periode pertama yang disebut-sebut sebagai masa keemasan islam, atau dikenal dengan istilah ” The Golden Age” . Dikarenakan pada masa itu umat islam telah mencapai puncak kejayaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Dan juga berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah dengan banyaknya penerjemah buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Dengan mewarisi imperium besar bani Umayyah. Hal ini memungkinkan daulah bani Abbasiyah dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasan telah dipersiapkan oleh daulah bani Umayyah yang besar. Pada awal perkembangan Khilafah Abasiyah, di mana ilmu-ilmu bahasa berkembang dengan pesat. Hal itu terjadi karena bangsa Arab (kaum muslimin) sudah banyak sekali bergaul dengan bangsa lain, terutama Persia. Pusat pemerintahanya adalah Baghdad yang sangat dekat dengan Persia, sehingga tradisi keilmuan bangsa Persia pun sangat berpengaruh kepada bangsa Arab. para ahli bahasa Arab dengan penuh semangat menyusun kaidah-kaidah Nahwu dan Sharaf.
Masa pemerintahan Abasiyah periode pertama merupakan zaman paling sesuai untuk kebangkitan kebudayaan. Di zaman tersebut, tamadun Islam telah mulai mantap setelah selesainya gerakan perluasan dan penaklukan yang menjadi keistimewaan zaman pemerintahan Umayah. Kebudayaan akan berkembang dengan luas di kalangan sesuatu umat apabila umat itu berada dalam keadaan yang tenteram dan ekonomi yang stabil. Umat Islam menikmati keadaan ini setelah berdirinya kerajaan Abasiyah dan khalifah Abu al-Abbas as-Saffah dan Khalifah Abu Ja’far berhasil mempertahankan serta menumpas musuh-musuhnya. Setelah tercapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada anggota-anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat di lapangan-lapangan masing-masing. Dengan demikian maka muncullah di zaman itu kelompok penyair-penyair handal, filosof-filosof, ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujanga-pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.
Budaya keilmuan pada masa dinasti Abasiyah sangat subur, hal tersebut karena budaya menerima warisan intelektual dari mana pun datangnya bahkan dari Yunani-Romawi- bukan merupakan kekeliruan dalam Islam, umat Islam dalam catatan sejarah tidak alergis terhadap peradaban Mesopotamia, Byzantium, Persia, Hindu dan China. Terjadi juga pada perkembangan kaidah bahasa Arab yang merupakan salah satu cabang ilmu yang digunakan untuk mempelajari hazanah sumber keilmuan Islam.
Sementara itu Bahasa Arab juga merupakan kajian yang menarik, di mana Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun bahasa Semit yang dominan dan masih bertahan sampai sekarang. Bahasa menjadi kajian setelah bangsa Arab mengenal budaya tulis-menulis dalam berbagai karya. Budaya tulis menulis yang berkembang di Arab dimulai setelah kedatangan Islam. Sebelum kedatangan Islam budaya yang berkembang dalam bidang kebahasaan lebih banyak berupa cerita lisan dan hikayat.
Adanya ragam bahasa dalam bahasa Arab, mulai dengan fusha dan ‘ammiyah, ragam baku dan non baku, berbagai dialek dan sebagainya. Pada zaman pra-Islam, bangsa Arab sudah mengalami kemajuan dalam bidang sastra. Ini ditandai dengan adanya festival sastra Ukaz, di mana pemenangnya akan mendapat kehormatan berupa dipamerkannya karya tersebut di Ka’bah dengan tulisan emas yang kemudian dikenal dengan al-sab’ah al mu’allaqat . Tujuh karya ini merupakan karya terbaik dari para penyair Arab dari berbagai kabilah dan suku. Ini berkembang hingga datangnya Islam, di mana bahasa Alquran kemudian menggunakan bahasa baku yang banyak digunakan pada waktu itu, hingga Khalifah Utsman meresmikan bahasa Quraisy sebagai bahasa Alquran.
Bangsa Arab menggunakan bahasa untuk mengungkapkan derajat yang tinggi dan luhur dengan kefasihan lidahnya dalam mengungkapkan bahasa. Bahasa arab dipandang memiliki bahasa yang padat, efektif dan singkat yang akhirnya digunakan dalam al-Qur’an sebagai bahasa mushaf resmi dan disepakati sampai sekarang
Dalam perkembangannya, Bahasa Arab menyebar sampai ke luar jazirah Arab seiring dengan menyebarnya agama Islam. Selain itu, Bahasa Arab menjadi simbol nasionalisme Arab ketika Islam mulai menyebar ke berbagai wilayah. Dari berbagai suku dan kabilah, bahkan bangsa yang berbeda, kemudian disatukan oleh Bahasa Arab. Bahasa Arab dengan demikian menjadi identitas bangsa Arab. Inilah yang kemudian mendorong dirumuskannya bahasa Arab baku yang harus disepakati sebagai lingua franca.
D. Kesimpulan
Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini karena bahasa merupakan salah satu unsur budaya, sedangkan budaya itu sendiri adalah sesuatu yang sebagiannya diformulasikan dalam bentuk bahasa.
Budaya memberikan pedoman bagi masyarakat yang memilikinya. Ia mengajarkan bagaimana manusia harus bertingkah laku, termasuk bertingkah laku dalam berbahasa. Sebagian tata cara bertingkah laku itu dapat diungkapkan dengan bahasa. Jadi, di sini terdapat kesulitan untuk membedakan atau memisahkan bahasa dari budaya atau budaya dari bahasa.
Hal ini membawa hubungan kita kepada hubungan lain kepada antara bahasa dan budaya, yaitu bahwa kunci bagi pengertian yang mendalam atas suatu kebudayaan adalah melalui bahasanya. Semua yang di bicarakan dalam suatu bahasa, terkecuali ilmu pengetahuan yang kita anggap universal, adalah tentang hal-hal yang ada dalam kebudayaan bahasa itu. Oleh karena itu maka jika kita ingin mendalami suatu kebudayaan ialah melalui bahasanya.

Daftar Pustaka
Abdul Karim Muhamad al As’ad, Al Wasît fi Târikh an Nahwi wal “arabiy, Riyadh: Dar al Tsawwaf, 1337 H.
Abdul Khaer dan Leonia Agustina, Sosiolinguistik. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004, cet I.
Abdul Khaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003). Cet II.
Abdurrahman Wahid , Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. (Jakarta: Desantara, 2001)
Albert Valdman, Trends in Language Teaching, USA: Indiana University Press, 1966.
Anshari, H.Endang Saifuddin. Agama dan Kebudayaan. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1980.
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya,( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Bernard Lewis, Bangsa Arab Dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Pedoman Ilmu jaya, 1988.
Edward Sapir, Language, Ottawa: Harc curt, Brace and World Inc, 1921
Gazalba, Sidi. Pengantar Kebudayaan sebagai Ilmu. Jakarta: Pustaka Antara, 1968
Hajjah Bainar, dkk.. Ilmu Sosial, Budaya dan Kealaman Dasar, Jakrta: Jenki Satria, 2006.
HAR. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia,( Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999)
Hazem Zaki Nuseibeh, Gagasan-Gagasan Nasionalisme Arab, Terj. Soemantri Mertodipuro, Jakarta: Bhratara, 1969.
Mansur, Abd. Munjid Sayyid Ahmad. Ilm Luhgah al-Nafsy. Riyadh: Jami’at al-Mulk Su’ud, 1982.
Mustapha Abdallah Bouchouk, Ta’lim wa ta’allum al Lughah al ‘Arabiyyah wa Tsaqafatuha, Rabat: Maktabah Dar al Aman, 1994.
Philip K. Hitti, History Of The Arabs, terj. R. Cecep L. Yasin dan Dedi S. Riyadi. Jakarta: Penerbit Serambi, 2006, cet ke-2.
Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Alquran dan Hadits, Jakarta: Rajawali Press, 2002, cet ke-2.
Samsuri, Analisa Bahasa; Memahami Bahasa Secara Ilmiah, Jakarta: Erlangga, 1974.
Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, 2002, cet. Ke-34
Stephen May, Langauge and Minority Rights, Longman, Printed in Malaysia, 2001.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan, 1985.
Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Vol 4, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1993.
Tu’aimah, Rusydî Ahmad, Ta’lîm al-Arabiyyah li ghair al-Nâthiqîn bihâ manhajuhu wa asâlibuhu. Rabath: Mansyurât al-Munazamah al-Islâmiyah li al-Tarbiyah wa al-ulûm wa al-tsaqâfah,1989.
Umar, Ahmad Mukhtâr. Waqâ’i Nadâwât Ta’lîm al-Arabiyah li ghair al-Nâtiqîn bihâ. Juz II Madinah al-Munawwarah: Maktab al-Tarbiyah al-Arabi li al-Duali al-Khalîj, 1985.
Virginia P Clark, ed, Language; Introductory readings, New York: St. Martin’s Press, tt.
William B. Gudykunst, Stella Ting-Toomey, Elizabeth Chua, Culture and Interpersonal Communication, USA: Sage Publications India, 1988.
Yûnus, Fathi ’Alî dan al-Syaikh, Muhammad Abd. al-Rauf. al-Marja’ fî al-Ta’lîm al-Lughah al-Arabiyah li al-Ajânib. al-Qahirah: Maktabah Wahbah, 2003.

~ oleh abbas08 pada Januari 15, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: